Wednesday, December 7, 2016

Larangan Berprasangka Buruk dalam Islam

Larangan Berprasangka Buruk – Dalam kehidupan sehari – hari kita sering kali menduga – duga akan berbagai macam perbuatan orang lain. Dan mayoritas dugaan yang kita lakukan kepada orang lain biasanya adalah dugaan atau pun prasangka – prasangka yang buruk. Prasangka perselingkuhan, prasangka pencurian, prasangka perbuatan syirik, merupakan beberapa contoh prasangka buruk yang sering kita lakukan terhadap orang – orang yang ada di sekitar kehidupan kita.

Dalam agama Islam, berprasangka buruk disebut dengan istilah “suuzan”. Agama Islam sangat melarang perbuatan suuzan. Hal ini dikarenakan suuzan dapat menimbulkan banyak sekali dampak negatif baik bagi pelakunya atau pun bagi orang yang menjadi korban suuzan tersebut.

Apa sajakah dampak negatif yang dapat disebabkan oleh perbuatan suuzan ini? Berikut rincian singkatnya telah kami siapkan untuk Anda :


Kenapa Agama Islam Menghimbau Pengikutnya Untuk Tidak Berprasangka Buruk? Karena...



Menggangu Kesehatan Jiwa dan Mental
Dampak negatif prasangka buruk yang pertama adalah dapat menggangu kesehatan jiwa dan mental. Menurut sebuah penelitian, hidup manusia akan sangat bergantung kepada apa yang dipikirkannya. Ketika pikirannya dipenuhi dengan pikiran – pikiran positif, maka positiflah kehidupannya. Akan tetapi, ketika pikirannya dipenuhi dengan pikiran – pikiran negatif, maka negatiflah kehidupannya. Dan parahnya lagi, pikiran negatif juga dapat membuat jiwa dan mental yang notabene bersih menjadi rusak dan dipenuhi dengan hal – hal yang tidak baik.

Dapat Merusak Diri Seseorang
Ketika kita berprasangka buruk terhadap seseorang, secara tidak langsung kita akan meluangkan banyak waktu untuk berpikir terhadap diri orang tersebut. Dan ketika hal ini terjadi, secara tidak langsung kita akan menghabiskan waktu kita hanya untuk perbuatan yang sia – sia. Bahkan, tidak jarang kita menjadi terlena sehingga berbagai macam aktivitas penting yang seharuskan kita lakukan tepat waktu seperti istirahat atau pun makan menjadi terkendala. Dampak akhirnya, tubuh pun akan menjadi lemah atau bahkan terserang berbagai macam penyakit.
Membuat Manusia Menjadi Tidak Produktif
Seperti yang telah disebutkan di poin yang sebelumnya, ketika kita memikirkan seseorang, secara tidak sadar, kita akan meluangkan banyak waktu berharga kita untuk perbuatan yang sia – sia. Dampaknya, waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk hal – hal yang menghasilkan pun menjadi terbuang sia – sia, sehingga pada akhirnya produktivitas hidup kita menjadi berkurang.

Hidup Menjadi Sulit Bahagia
Salah satu kunci kebahagiaan adalah dengan membuat atau pun sekedar melihat orang – orang yang ada di sekitar kita bahagia. Maka dari itu, ketika kita sering berprasangka buruk kepada orang – orang yang ada di sekitar kita, dapat dipastikan peluang kita untuk bisa merasakan bahagia akan menjadi semakin kecil dan terus berkurang.

Dapat Memicu Berbagai Macam Penyakit
Pikiran merupakan inti dari setiap hal yang ada dalam tubuh manusia. Menurut sebuah penelitian, otak yang sering digunakan untuk berpikiran negatif, cenderung mendorong tubuh untuk melakukan aktivitas – aktivitas yang negatif. Tidak hanya itu, otak yang sering dipakai untuk berpikiran negatif kabarnya juga dapat membuat sistem imun dalam tubuh menjadi lemah sehingga tubuh menjadi lebih rentan terserang penyakit.


Itulah beberapa alasan yang melandasi Agama Islam menyatakan larangan beprasangka buruk kepada para pengikutnya. Perlu diingat, kehidupan manusia akan sangat dipengaruhi oleh apa yang dipikirkannya. Oleh karena itu, agar kehidupan kita senantiasa membaik, selalu jaga dan rawat pikiran kita agar dapat menghasilkan perbuatan dan juga hasil yang positif dan juga bermanfaat bagi kehidupan orang lain dan diri kita sendiri

Sumber: beritaislamiterkini.blogspot.co.id/2016/03/larangan-berprasangka-buruk-dalam-islam.html?m=1

Keutamaan Masjid Nabawi dan Pahala Shalat Didalammya


Sahabat dunia islam, Masjid Nabawi adalah masjid kedua yang dibangun oleh Rasulullah setelah Masjid Quba yang didirikan dalam perjalanan hijrah dari Makkah ke Madinah. Masjid Nabawi dibangun sejak saat-saat pertama Rasulullah tiba di Madinah, Seperti kita ketahui Pahala Shalat di Masjid Nabawiadalah 1.000 kali lipat dibandingkan dengan shalat di masjid biasa.
Jika kita lihat saat ini Masjid Nabawi sangat megah dan kokoh itu semua berawal dari perjuangan Rasulullah, para sahabat, dan Khalifah. Beserta kaum anshor dan muhajirin
Rasulullah telah membangun dan membina masjid Nabawi dengan berlandaskan ketakwaan kepada Allah. Ketika Rasulullah keluar dari Quba menuju kota Madinah, banyak sekali pengikut beliau yang saling berebutan untuk menarik tali Unta Rasulullah dan menawarkan tempat untuk Rasulullah tinggal.
Dengan penuh kearifan beliau menjawab permintaan dan tawaran penduduk Madinah dan berkata “Biarkanlah unta ini jalan, karena ia diperintah Allah”.
Setelah sampai di depan rumah Abu Ayub Al-Ansari, unta tersebut berhenti dan Abu Ayub sangat senang dan mempersilahkan Rasulullah untuk tinggal di rumahnya. Setelah beberapa bulan di rumah Abu Ayyub Al-Anshari, Rasulullah mendirikan masjid di atas sebidang tanah wakaf dari As’ad bin Zurrah dan anak yatim Sahal dan Suhail, anak Amir Bin Amarah yang diasuh oleh Muadz bin Atrah.
Saat mulai pembangunan masjid, Rasulullah meletakan batu pertama, diikuti dengan batu kedua, ketiga, dan keempat dibantu oleh Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali. Kemudian masjid tersebut dibangun bersama-sama dengan kaum Anshar dan kaum Muhajirin hingga selesai.
Saat itu, pagar Masjid Nabawi terbuat dari batu tanah dengan tinggi 2 meter. Tiang-tiangnya dari batang kurma, atapnya dari pelepah daun kurma, dan halaman ditutup dengan batu-batuan kecil. Saat itu, kiblat pun menghadap ke Baitul Maqdis karena pada waktu itu belum turun perintah Allah untuk menghadap ke ka’bah. Masjid Nabawi terus dibangun dan diperluas oleh para khalifah dan tabi’in.
Perkembangan pembangunan masjid nabawi dari masa sepeninggalan Rasullullah bisa kita lihat Pada masa Umar bin Khattab tahun 17 H (638 M) bangunan direnovasi dan diperluas pada bagian Selatan, Barat, dan Utara seluas 1100 meter persegi . Di masa Khalifah Utsman bin Affan tahun 29 H (649 M) bangunan Masjid dibangun dengan batu dan beliau memperluas masjid di sisi bagian Selatan, Barat dan Utara sebesar 470 meter persegi.
Pada tahun 88 H (706 M) khalifah dari Bani Umayah Al-Walid bin Abdul Malik merenovasi bangunan dan melakukan perluasan masjid di sisi bagian Barat, Selatan, dan Timur. Hujrah Syarifah dimasukan dalam kawasan bangunan masjid dengan tetap menjaga Hujrah Umul Mukminin Aisyah yang merupakan tempat pemakaman Rasulullah dan kedua sahabatnya, Abu Bakar dan Ummar bin Khathab.
Tahun 161 H (777 M) Khalifah Al-Mahdi Al-Abbasi memerintahkan agar masjid diperluas lagi, maka jadilah luas bangunan secara keseluruhan 8890 meter persegi  dan dibangun kembali tanpa perluasan karena terjadi kebakaran hebat pada tahun 645 H (1226 M).
Pada tahun 879 H (1474 M) dibangun kembali beberapa bagian masjid atas perintah Sultan Al-Mamluki Al-Asyraf Al-Qaytbai. Ketika itu halilintar menyambar menara utama hingga timbul kebakaran besar pada tahun 886 H (1481 M), lalu Al-Asyraf memerintahkan agar bangunan Masjid dibangun kembali dan diperluas sisi bagian timur seluas 120 meter persegi dan dibangun menara baru di babur rahmah.
Kita bisa melihat perkembangan majid nabawi sampai saat ini terlihat megah dan menurut dari beberapa sumber masjid nabawi termasuk masjid terbesar di dunia setelah masjidil haram yang menempati urutan teratas.
Keutamaan Masjid Nabawi yang dinyatakan oleh Muhammad SAW sebagaimana diterima dari Jabir RA yakni sebagai berikut:
“Satu kali shalat di masjidku ini, lebih besar pahalanya dari seribu kali shalat di masjid yang lain, kecuali di Masjidil Haram. Dan satu kali salat di Masjidil Haram lebih utama dari seratus ribu kali salat di masjid lainnya.”
Tak hanya itu, Rasululllah SAW pun pernah bersabda, “Barangsiapa melakukan shalat di masjidku sebanyak empat puluh kali tanpa luput satu kali salat pun juga, maka akan dicatat kebebasannya dari neraka, kebebasan dari siksa dan terhindarlah ia dari kemunafikan.” (Riwayat Ahmad dan Thabrani).
Berdasarkan hadis-hadis tersebut  maka Kota Madinah dan terutama Masjid Nabawi selalu ramai dikunjungi umat Muslim yang tengah melaksanakan ibadah haji atau umrah sebagai amal sunah.

Sumber : www.duniaislam.org/07/12/2016/keutamaan-masjid-nabawi-dan-pahala-shalat-didalamnya/

Foto-foto Kerusakan Gempa Pidie Jaya, Aceh


Gempa tektonik yang mengguncang Pidie Jaya, Aceh menyebabkan sejumlah bangunan hancur. Beberapa masjid dan toko rusak parah.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengatakan, gempa bumi terjadi pukul 05.03 WIB (7/12) dengan kekuatan M=6,5. Pusat gempa bumi terletak pada 5,25 LU dan 96,24 BT, tepatnya di darat pada jarak 106 km arah tenggara Kota Banda Aceh pada kedalaman 15 km.

Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) melansir data terbaru korban gempa Pidie Jaya (Pijay).Data sementara hingga pukul 12.30 WIB, Rabu (07/12/2016), pertokoan yang roboh di Kecamatan Meureudu 41 unit, Trienggadeng 26 unit,  Bandar Dua 13 unit, Bandar Baru 16 unit, dan Kecamatan Meurah Dua sebanyak 2 unit. Total 98 unit toko.
Pusdatin BPBA juga melaporkan, masjid yang rusak berat sebanyak 6 unit dan rumah rusak berat 15 unit

Korban meninggal di Kecamatan Trienggadeng 19 orang dan 5 orang luka berat.Di Kecamatan Meureudu, meninggal 6 orang, luka berat 21 orang.Berikutnya di Kecamatan Bandar Baru, 4 orang meninggal dan 6 orang luka beraHingga saat ini total korban meninggal sebanyak 34 orang dan luka berat 32 orang.

Berikut ini foto-foto mengerikan gempa Aceh yang beredar di media sosial Instagram dan aplikasi WhatsApp:











sumber : http://www.islamidina.com/2016/12/foto-foto-gempa-aceh-mengerikan-masjid.html
                      http://aceh.tribunnews.com/2016/12/07/ini-data-terbaru-korban-gempa-pijay-34-                                 meninggal-dunia